BEDHUK BUNYI SENDIRI
Konon dari cerita turun temurun, bedhuk Kiringan bunyi sendiri bila terjadi musibah sungai Kiringan terjadi banjir bandang.
Bunyi bedhuk Kiringan ini tidak hanya terdengan di sekitar dukuh Kiringan saja, tetapi juga sampai ke desa-desa disekitarnya. Masyarakat sendiri sampai sekarang mempercayai hal itu.
Di dalam bedhuk Kiringan sendiri terdapat sebuah piring kecil, namun sekarang kondisinya sudah pecah dan masyarakat sendiri tidak merawatnya.
Bahkan pernah ada orang yang datang ke Kirngan menemui juru kunci Makam Mbah Mahzum, yang menanyakan Bedhuk, Kentongan dan tongkat pegangan untuk khutbah Jum’at.
Barang2 tersebut akan diminta oleh orang tersebut, dan sebagai gantinya akan dipugarkan Masjid Kiringan sesuai permintaan, meskipun dengan biaya yang sangat besar. Namun permintaan tersebut langsung ditolak oleh juru kunci makam, karena masyarakat tidak berani menanggung akibatnya serta barang2 tersebut memang harus dijaga dan dilestarikan sebagai peninggalan Ki Ageng Kiringan.
Disamping keajaiban Bedhuk Kiringan, di masjid Kiringan juga terdapat sumur tua, dan sampai sekarang masih di jaga baik oleh juru kunci makam dan juru kunci masjid.
Konon sumur tersebut dahulu air nya digunakan orang untuk melakukan ritual sumpah, tetapi oleh juru kunci Makam waktu itu KH IRSYAD (almarhum), tidak diperkenankan lagi orang melakukan sumpah di Makam Ki Ageng Kiringan. Sumur tersebut menurut ceritera dibuat oleh murid Ki Ageng Kiringan yang bernama Abdul Rozaq atau yang lebih dikenal dengan Mbah Rozak, yang sekarang makamnya ada di Desa Jembul Wunut Kecamatan Gunung Wungkal atau tepatnya di Dukuh Gosari.
TONGKAT PEGANGAN KHOTIB
Dahulu tongkat yang digunakan saat khotib berkhutbah Jum’at jumlahnya ada 2 (dua) buah.
Namun waktu itu sungai Kiringan terjadi banjir bandang dan sampai mengikis dukuh Kiringan tinggal beberapa meter dibelakang masjid. Dan bila terjadi banjir terus menerus tidak menutup kemugkinan tanah yang ada dibelakang masjid akan terus terkikis dan membahayakan masjid serta pemakaman yang ada di belakang masjid.
Maka suatu ketika terjadi banjir besar lagi yang sangat membahayakan keberadaan masjid, maka oleh Ki Ageng Kiringan diambilnya salah satu tongkat tersebut dan ditancapkan ditempat yang dilanda banjir.
Anehnya sewaktu tongkat ditancapkan ditanah, banjir yang semula akan menerjang masjid Kiringan, tiba-tiba pindah/bergeser ke selatan dukuh Kiringan. Lokasi bekas sungai tersebut, dinamakan Kali Tengah, yang artinya bekas tengah-tengah sungai yang menjadi areal persawahan yang sangat subur.
AKIBAT PEMINDAHAN TEMPAT WUDLU
Dahulu didepan masjid Kiringan terdapat kolam/tempat wudlu yang dibangun oleh Ki Ageng Kiringan.
Kolam tersebut dialiri air dari sungai Kiringan yang dialirkan persis melalui tengah-tengah makam Kiringan. Waktu itu air yang mengalir tidak pernah surut meskipun kemarau sangat panjang. Dan kolam/tempat wudlu tersebut tidak pernah kekurangan air.
Tiba-tiba pengurus Masjid waktu itu berkeinginan untuk memindahkan tempat wudlu dari depan masjid ke samping masjid agar masjid dapat diperluas dan direhab lebih modern.
Anehnya sejak tempat wudlu dipindah dan air sungai Kiringan tidak dialirkan lagi ke kolam/tempat wudlu, sejak saat itu pula air sungai Kiringan kering dan tidak bisa untuk mengairi persawahan yang ada di desa Punden Rejo dan sekitarnya. Sawah-sawah yang dulunya sangat subur tidak kekurangan air, kini menjadi kering kerontang dan hanya bisa ditanami palawijo atau menjadi sawah tadah hujan. Masih banyak kejadian-kejadian penting lainnya yang tidak bisa kami tuliskan satu persatu.


